Kesuksesan dan Bunuh Diri

Seorang rekan bertanya, "Jim kenapa orang terkenal yang kelihatan sukses itu bisa bunuh diri?". Jawaban atas hal ini tentu tidak pernah sesederhana penjabaran saya, dan tentu lebih dari sekedar dosa/tidak, surga atau neraka. Jawaban dari pertanyaan ini ada didalam kesepian, kesedihan, rasa sakit, penderitaan, ketidakpuasan yang merayap didalam dirinya selama berbulan bulan (kalau tidak bertahun tahun), yang selalu disembunyikannya dari orang lain, terutama dari orang yang dia sayangi
Sedikit fakta tentang bunuh diri :· Lebih dari 1 juta orang setiap tahun melakukan bunuh diri,· Diperkirakan 10 hingga 20 kali jumlah ini melakukan usaha bunuh diri.· Jumlah ini lebih dari bencana alam, perang dan kematian karena kejahatan kekerasan digabungkan!,· 80% dari keseluruhan jumlahnya adalah laki-laki.

Teori lama mengatakan penyebab bunuh diri adalah rasa sakit psikologis atau keputusasaan yang mendalam yang tidak dapat diatasi. Hal ini tentu merupakan faktor yang melandasi bunuh diri, namun bukan keseluruhannya. Ada banyak bunuh diri dilakukan oleh orang yang "baik-baik saja". Sebagai profesional dalam kesehatan mental, saya sangat menyadari bahwa masyarakat kita memiliki kecenderungan untuk tidak mencari pertolongan saat sedang mengalami stres emosional. Pergi ke psikolog atau psikiater dianggap sebagai kelemahan, tanda kurang iman, jiwa yang lemah.

Karena hal ini kita menyangkal rasa sakit kita. Tidak ada orang lain yang membicarakannya, sehingga kita pasti satu-satunya orang yang merasa seperti ini. Kita menyimpan rasa sakit ini sendirian, menunggunya untuk mengendap dan semakin menguat.

Masyarakat lebih mampu menolerir wanita merasakan emosinya ketimbang laki-laki. "Boys dont cry", begitu yang kira-kira. Sehingga lebih banyak laki-laki yang menenggelamkan emosinya, berpura-pura dia tidak merasakan apa apa. Mencoba mengatasi beban yang dia sedang timbun sendiri. Stereotip gender juga mengerikan ketika ada laki laki yang mengekspresikan emosinya. "Jangan kaya cewe deh", "anak cowo kok nangis", meninggalkan luka yang semakin lama semakin tidak mampu diatasi oleh laki laki yang masa kanaknya terluka ini.

Masyarakat kita tidak mengijinkan ekspresi emosi yang sehat. Meninggalkan kita sedikit opsi untuk merasakan perasaan, selayaknya manusia memiliki perasaan. Wanita dan pria abad ini terjebak dengan sedikitnya alternatif sehat dalam menyalurkan perasaannya

Rory O'Connor, seorang ahli tentang bunuh diri, mengidentifikasi sifat yang umum bagi mereka yang memiliki pikiran untuk bunuh diri, Social Perfectionism. Ini adalah tentang apa yang Anda percaya orang lain harapkan dari Anda. Ini bukan tentang apa yang Anda harapkan dari diri Anda sendiri atau apakah itu ada hubungannya dengan apa yang orang lain benar-benar pikirkan atau harapkan dari Anda. Ini tentang penafsiran Anda tentang harapan orang lain tersebut

Social Perfectionism ini membuat kita percaya bahwa kita telah mengecewakan orang lain, atau gagal dalam beberapa hal. Ini adalah cara pikiran dan emosi kita bekerjasama untuk meyakinkan kita bahwa kita kurang sempurna, bahwa kita tidak memenuhi harapan orang lain. Bagi laki laki, hal ini dikombinasikan dengan stereotip gender dan tuntutan sosial, harapan untuk bisa menjadi pencari nafkah, panutan yang baik bagi keluarga, sukses atau di tempat kerja, kekayaan atau kekuasaan. Bisa dibayangkan tidak sehat dan jahatnya tuntutan kehidupan kita sekarang bukan?

Sebagai masyarakat, kita perlu mendorong orang untuk berbicara tentang stres dan emosi yang mereka rasakan menerima mereka sebagaimana adanya. Kita tidak bisa memisahkan diri kita dan emosi yang kita rasakan, lalu mengapa kita berpura pura bisa mengabaikan emosi kita ini?

Bukan emosi yang buruk, melainkan keengganan kita mengakuinyalah yang memperburuk. Bukan emosi yang buruk, namun menyimpannya dan membiarkannya membesar dalam gelapnya perasaan, itulah yang buruk.
Akuilah, carilah pertolongan. Hanya dengan mengijinkan cahaya untuk masuk, kegelapan emosi bisa mereda

Tidak ada komentar