Bunuh Diri Tidak Sederhana

Dalam artikel Tirto berjudul Bagaimana Seharusnya Media Memberitakan Bunuh Diri Mahasiswa, Tirto memaparkan dengan cukup manis kekhawatiran saya selama ini judul berita korban bunuh diri. Bunuh diri tidak pernah sederhana, menyederhanakan kasus bunuh diri dengan "skripsi ditolak", "cinta ditolak", "gagal tes masuk dokter spesialis", tidak akan pernah menyentuh permasalahan sesungguhnya.

Pikiran bunuh diri adalah sebuah skeptrum perjalanan, bukan aksi mendadak akibat "cinta ditolak", "tidak kuat menghadapi skripsi". Ada latar besar disana yang perlu disingkapkan. Pikiran bunuh diri merupakan sebuah spektrum dimulai dari

  • Pikiran bunuh diri pasif
  • Pikiran bunuh diri aktif
  • Perencanaan bunuh diri
Pikiran bunuh diri pasif itu misalnya keinginan "Menghilang saja", "Tiba tiba besok kiamat", "Tiba tiba meninggal", itu adalah pikiran bunuh diri. Ada pikiran tentang mengakhiri hidup walaupun belum terpikir oleh kita untuk melakukannya sendiri. Namun ini adalah awal pikiran yang seringkali tidak disadari, dan oleh karenanya tidak tertangani dengan baik. Dan jelas karena tidak tertangani dengan baik oleh karena itu banyak yang memberat dan menjadi semakin kompleks.

Lalu apa yang mendorong keinginan bunuh diri? Sebenarnya sangat banyak. Tema besar dari bunuh diri menurut Shneidman adalah Psychache, atau gampangnya, "nyeri pada jiwa". Nyeri ini baru terungkap jika korban bicara secara terbuka, jika kita mendengarkan tanpa penghakiman, lepas dari asumsi, lepas dari stigma. Nyeri ini tidak akan nampak dalam penerawangan biasa, kecuali jika nyeri ini sudah begitu mengganggu. Pernah lihat kan orang yang nyeri kepala tapi sedikit, hidupnya pasti biasa saja. Masih bisa aktivitas, masih bisa senyum, tapi begitu nyeri ini berat maka semua aktivitasnya akan terganggu.


Begitupun dengan nyeri pada jiwa, awalnya mungkin tidak terlihat. Namun seiring waktu nyeri pada jiwa ini membesar, menguat, menetap dan tidak mau pergi, kehidupan pun menjadi taruhannya. Seakan semua gelap tanpa harapan, kehidupan terasa seperti penderitaan, tidak ada tujuan, kebahagiaan pun tidak bisa dirasakan. Nah itu bukan tanda tanda kita kurang bersyukur, itu tanda kita sedang merasakan nyeri pada jiwa.
Pemahaman akan adanya rasa sakit dibalik pikiran/tindakan bunuh diri ini penting. Agar kita mampu berempati lebih baik, bukan menghakimi. Memahami bahwa ada rasa sakit dibalik pikiran/tindakan bunuh diri memberikan kesadaran, bahwa dirinya pun korban. Seseorang tidak serta merta ingin mengakhiri hidupnya, kecuali jika rasa sakitnya terlalu dalam
Ya dia juga korban dari rasa sakit yang terlalu dalam

Penting menyadari adanya rasa sakit ini, agar kita tidak menambah nambahi rasa sakit. "Ah kamu lebay, masih banyak yang lebih ga beruntung", kira kira jika orang yang sedang nyeri dibilang begini, apakah nyeri nya akan hilang? Atau memburuk? Kamu tau jawabannya.

Bukan menemani, kita malah bergaya memberikan solusi. "Harusnya kamu bersyukur", "Lihat itu masyarakat di negara perang", "Harusnya kamu perbanyak ibadah", dst. Apakah nyeri akan menghilang? Bisa jadi.. Tapi pada sebagian besar kasus tidak, malah memberat

Lalu solusi nya gimana dok? Pernah lihat orang nyeri kepala? Nyeri pinggang? Nyeri perut? Kemana kamu membawa mereka kalau nyeri nya berat dan ga hilang hilang? Apakah kamu suruh mereka bersyukur? Atau antar mereka ke dokter? Apa jadinya kalau kamu bergaya ingin menyelesaikan nyeri kepala, nyeri perut, nyeri dada yang berat dan ga hilang hilang, padahal kamu bukan dokter?
Ya pasiennya bisa meninggal kan? Nyeri pada jiwa pun sama

Lalu apa langkah praktis yang bisa kita lakukan sebagai teman jika ada orang yang kita sayangi mengalami tanda tanda kecenderungan bunuh diri? Disini ada panduan yang ditulis oleh Into The Light Indonesia dalam mengatasi kecenderungan bunuh diri.

Semoga bisa membantu

Tidak ada komentar