Empati

Sejak saya sekolah dulu definisi empati suka berbeda-beda. Ada yang menganggap empati adalah keterhubungan emosional tanpa terlarut, sementara simpati tenggelam dalam rasa emosional.

Ada juga definisi yang justru berkata sebaliknya, empati dianggap keterhubungan yang terlarut sementara simpati dianggap melebihi bersifat detached.

Saya akan menggunakan definisi yang pertama, empati itu merasakan tanpa terlarut.


Saat ini saya memakai istilah empati dalam menggambarkan pengalaman emosional yang luas, sebagai kemampuan seseorang untuk merasakan emosi orang lain, disertai dengan kemampuan untuk membayangkan apa yang orang lain rasakan atau pikirkan.

Apakah seorang profesional membutuhkan empati? Bukankah seorang profesional dituntut objektif? Bagaimana jika profesional dipengaruhi oleh pandangan subjektif dan emosional?

Apakah sebagai teman kita perlu empati? Tapi kan kita harus membantu dia agar tidak berlama-lama tenggelam dalam sedih? Masak membenarkan perasaan sedihnya, tugas teman kan harusnya menolong.

Sebelum bergerak lebih jauh saya akan menjelaskan tentang dua jenis empati


  1. Empati afektif: yaitu kemampuan manusia untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Misalnya ketika teman kamu merasa sedih, kamu bisa ikut juga merasa sedih. Ketika teman kamu menceritakan kisah yang sangat menyakitkan, kamu juga merasakan rasa sakit yang dirasakan.
  2. Empati kognitif: merupakan sebuah kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain. Jadi kita mampu menempatkan diri kita untuk mengidentifikasi dan memahami proses pikir orang lain, sehingga kita bisa merasakan emosinya.


Empati ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, tapi beberapa hewan terutama primata, anjing, bahkan tikus juga merasakan empati. Empati punya tujuan penting untuk sebuah kelompok sama-sama bertahan dan selamat. Dengan empati seseorang (atau sesehewan) jadi memahami yang pihak lain rasakan, sehingga dapat merespon dengan lebih tepat.

Di otak sendiri ada yang dinamakan mirror neuron, di sini kita menginterpretasikan emosi yang dirasakan orang lain. Benar bahwa empati juga hasil kerja otak. Dengan kita mengobservasi pihak lain, mirror neuron akan bekerja dan membuat kita seakan sedang mengalami pengalaman tersebut.

Empati juga diketahui meningkatkan kepuasan pasien dan hubungan positif diantaranya. empati dapat menurunkan kecemasan pasien dan level distres pasien, serta secara signifikan meningkatkan perbaikan klinis.

Permasalahan muncul, karena banyak dari kita lupa akan pentingnya hal ini.

Sebagai seorang manusia (entah kamu profesional atau kamu seorang teman) maka kamu perlu belajar untuk memahami orang lain. Bukan menyembuhkan orang lain. Kesembuhan tidak terjadi tanpa pemahaman yang tepat. Jadi kalau kamu terburu-buru ingin menyembuhkan tanpa ingin memahami, sangat mungkin kamu hanya menambah nambahkan luka.

Jadi pertama-tama benarkan motivasi dahulu. Bahwa orang yang datang di depanmu, adalah orang yang perlu dipahami. Bukan orang sakit yang perlu diperbaiki.

Kedua saya mau memperkenalkan dengan dua istilah


1. Invalidasi: Saya tidak menganggap apa yang lawan bicara rasakan sebagai hal yang nyata.
Contoh

"Ah gitu aja udah sedih, gua pernah lebih parah lagi" dalam contoh ini, dia sedang tidak menganggap bahwa rasa sedih lawan bicara itu nyata

"Harusnya kamu bersyukur, masih banyak yang lebih nggak beruntung daripada kamu" dalam contoh ini, dia sedang tidak menganggap bahwa keluhan yang orang lain rasakan itu nyata

"Kamu cemas begini pasti karena kurang ibadah, kurang hal-hal yang spiritual" dalam contoh ini, selain sedang tidak menganggap keluhan orang lain, dia juga sedang menyentuh isu sensitif yang menyakitkan. Dia menuduh keimanan orang lain tidak sebaik dirinya.

2. Validasi: Saya menganggap apa yang lawan bicara saya rasakan sebagai hal yang valid dan nyata. Terlepas, bisa saja saya tidak setuju dengan tindakannya

"Tampaknya kamu sedang sedih, tentu itu menyakitkan ya. Tapi saya tidak setuju jika kamu menyakiti dirimu sendiri setiap kali kamu sedih" kamu memahami perasaan orang tersebut, dan kamu menyatakan ketidak tujuan dengan perilakunya. Bukan kepada orangnya, tapi kepada perilakunya

"Dalam keadaan terbebani seperti ini, tentu rasanya sulitnya melihat ke sisi yang positif. Tapi saya tidak setuju jika kamu bilang kamu nggak punya harapan" mengakui bahwa rasa sakit (emosi) orang lain itu nyata adalah penting, berbeda dengan mengakui bahwa segala apa yang dia pikirkan adalah nyata

"Kecemasan adalah hal yang wajar, saya rasa semua manusia tentu pernah cemas. Namun jika kecemasan kamu mengganggu keseharian, alangkah lebih baik cari pertolongan profesional yuk"

Dari kedua respon validasi dan invalidasi, bisakah kamu menangkap perbedaannya? Respon validasi adalah respon yang empatik. Sedangkan invalidasi, sebenar atau semanis apapun itu di pikiranmu, akan berpotensi sangat menyakitkan bagi yang mendengarnya.

Untuk melakukan empati, kita perlu menyediakan diri menjadi pendengar, bukan menjadi pendebat. Kita tidak sedang beradu argumen siapa yang benar siapa yang salah. Kita sedang duduk bersama, saling memahami, untuk mengurangi rasa sakit.

Problemnya adalah, tidak semua orang ingin memahami. Memahami menimbulkan rasa sakit sendiri bagi pendengarnya, itu yang membuat beberapa orang malas mendengar dan memilih respon "Ah kamu mah kurang bersyukur" sekadar untuk mendiamkanmu bicara. Iya tujuan kalimat itu hanya untuk mendiamkanmu bicara, bukan untuk memahami.

Saya akan menutup kisah ini dengan sebuah cerita.

Dahulu kala hiduplah seorang petani yang sangat tua. Petani ini begitu tuanya sampai tidak dapat bekerja lagi. sang petani hanya duduk duduk saja di teras rumah sementara anaknya bekerja di sawah.

Sang anak begitu marah melihat setiap hari ayahnya hanya duduk duduk saja, sementara dia harus sibuk bekerja.

"Dasar ayah yang tidak berguna, dia tidak bisa melakukan apa-apa!"

Suatu hari sang anak menjadi sangat frustasi akibat hal ini. Dia kemudian membuat sebuah seperti mati yang bagus dari kayu, menariknya sampai ke teras rumah, dan menyuruh ayahnya masuk ke dalam peti mati.

Tanpa berkata apa-apa sang ayah masuk ke dalam peti mati tersebut. Setelah menutup pati mati itu, sang anak menarik seperti mati sampai ke pinggir sawah di mana ada jurang yang sangat dalam.

Mendekati jurang, tiba-tiba dari dalam peti mati sang anak mendengar ketukan yang lembut. Dan dia membuka pati mati tersebut. Masih terbaring di sana ayahnya yang tampak berbaring dengan tenang, sang ayah melihat anaknya ke atas dan berkata "aku tahu kamu mau melemparkan ku ke jurang, tapi sebelum melakukan hal itu bolehkah aku menyarankan satu hal?", "Apa itu?" Sahut sang anak. "Lemparkan saja aku ke jurang, jika kamu memang menginginkannya" kata sang ayah, "Tapi simpan lah peti mati yang bagus ini. Anakmu mungkin nanti membutuhkannya"

Tanpa empati, kita akan berakhir saling menyakiti


Kalau kamu, pernahkah ada kalimat empatik yang menyentuh kamu? Yuk sharing di sini untuk saling menguatkan, dan belajar empati bersama.


1 komentar

  1. KINI DEWALOTTO MENYEDIAKAN DEPOSIT VIA PULSA TELKOMSEL / XL
    UNTUK KEMUDAHAN TRANSAKSI , ONLINE 24 JAM BOSKU ^-^
    WWW.DEWA-LOTTO.NAME
    WA : +855 88 876 5575

    BalasHapus