Pergi Ke Profesional Kesehatan Mental?

Beberapa dari kita mungkin takut atau enggan mencari pertolongan profesional kesehatan mental sekalipun kita sudah mengetahui bahwa kita butuh pertolongan.

Ada banyak faktor yang menghambat seseorang mendapat pertolongan profesional, mulai dari faktor internal, adanya stigma, kondisi ekonomi, tidak adanya sistem pendukung, takut diomongin orang, takut keluarga tahu dan nggak nerima, banyak banget

Kita nggak akan bahas semuanya hari ini, karena jelas saya juga tidak menguasai semua topik tersebut. Hehehehe 😂


1. Biaya
Banyak yang menanyakan soal biaya pergi ke profesional kesehatan mental di akun yang saya pegang ini. Pembiayaan tentu bervariasi bergantung dengan layanan yang kamu ambil dan dimana kamu mengambilnya. Kalau kamu memilih layanan alternatif, ya tentu lebih mahal daripada kamu pergi ke professional asli. Kalau kamu pergi ke profesional asli dan masih merasa mahal, masih ada asuransi. Jika kamu merasa asuransi pun masih mahal, ada juga layanan yang murah seperti di puskesmas (banyak di Jakarta dan Jogja). Akan tetapi lebih murah daripada kamu membiarkan kamu tetap tenggelam dalam gangguan mu, dan akhirnya menjadi kurang produktif.

Bagaimana menggunakan BPJS untuk pergi ke profesional kesehatan mental?
A. Psikiater
Pastikan kamu punya kartu BPJS dan masih aktif. Siapkan surat-surat lain yang diperlukan misalnya fotokopi KTP, kartu BPJS, dan fotocopy kartu keluarga. Lalu cek di mana kamu terdaftar pada fasilitas Kesehatan pertama (klinik/puskesmas/dokter keluarga).

Setelah itu pergilah ke fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar pada kartu mu. Kalau kebetulan di sana ada layanan kesehatan jiwa yang dilayani oleh psikolog, itu baik. Atau jika bahkan ada poli jiwa di sana, malah juga baik.

Tapi ingat tidak banyak puskesmas yang punya poli jiwa, jadi jangan kecewa ya kalau nggak ada.

Lalu jika tidak ada maka sampaikan ke dokter umum tentang keluhan mu dan keinginanmu untuk konsul ke poli jiwa. BPJS adalah sistem asuransi yang berjenjang, sehingga kamu perlu dinyatakan butuh untuk dirujuk ke poli jiwa oleh dokter umum di fasilitas primer.

Jika kamu sudah mendapatkan surat rujukan ke poli jiwa, maka selamat. Kamu tinggal siap siap pergi menuju rumah sakit rujukan yang telah dipilih oleh fasilitas Kesehatan primer. Surat rujukan tersebut berlaku selama 3 bulan,sehingga tidak perlu buru-buru untuk langsung menuju psikiatri.

Jika kamu menggunakan BPJS untuk mendaftar poli psikiatri, saran saya berangkat lah pagi-pagi agar dapat nomor antrian awal. Bawa fotokopi KTP, KK, kartu BPJS , dan surat rujukan dari puskesmas/klinik. Selanjutnya tinggal daftarkan dirimu di loket pendaftaran, dan ikuti alur sampai dipanggil dan terdaftar. Lalu bersiaplah masuk ke Poli untuk konsultasi. Namun karena banyaknya jumlah pasien, mohon agak sabar ya, pasti tetap dilayani kok.
Dari keseluruhan proses tadi semuanya ditanggung oleh BPJS dan tidak ada biaya tambahan. Jadi kalau masih ada yang bilang mahal, saya kasih tahu kalau lebih mahal pergi ke terapi alternatif. Dan lebih mahal juga kalau tidak diobati.

Kalau bayar sendiri berapa dok?
Nah pertanyaan ini nggak bisa saya jawab. Karena bergantung lokasi, rumah sakit, diagnosis kamu, jenis obat, dan lain sebagainya.

B. Psikolog
Untuk kamu yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, beberapa puskesmas Jakarta sudah memberikan layanan psikologi misal di

Mampang Prapatan
Pancoran
Kemayoran
Pasar rebo
Kramat jati
Taman Sari
Matraman
Kebayoran lama.... Dll (dan masih banyak lainnya, silakan cek di Google apakah Puskesmas terdekat mu memiliki psikolog)

Biayanya kalau tidak salah 10ribuan. Nggak pakai mahal

Puskesmas Jogjakarta bahkan sudah memiliki psikolog semua

Jadi masih takut ke profesional karena takut mahal?


2. Stigma
Stigma bisa datang dari mana saja, bahkan stigma bisa datang dari dalam diri kita sendiri. Menganggap bahwa diri ini kuat dan tidak butuh pertolongan, mencari pertolongan adalah orang yang lemah, mencari pertolongan adalah untuk yang tidak waras, laki-laki harus kuat gak boleh nangis, cukup beribadah saja tidak perlu ke profesional, dan entah stigma apa saja yang kalau di list bisa jadi artikel sendiri.



3. Takut ga didukung
Perlu diakui bahwa mental health problem masih dianggap tabu dan sering disalahpahami. Mungkin akan jarang orang yang mendukung kenalannya untuk pergi ke profesional kesehatan mental. dan oleh karenanya kita lebih baik tidak terlalu banyak berharap semua orang akan mendukung kita mencari pertolongan profesional. Alih-alih harapkanlah mereka akan meminta kita bersyukur, beribadah, dengerin kaset motivasi, atau apapun selain pergi ke profesional. Dengan mengharapkan hal ini, kita tidak akan kecewa ketika orang lain tidak mendukung. Dan dengan mengharapkan hal ini, kita akan mensyukuri orang-orang yang walaupun sedikit, dengan kebaikannya mereka mendukung.

Dan untuk mengatasi hal ini, setelah kita memutuskan untuk mencari pertolongan, adalah baik untuk bergabung ke dalam kelompok swabantu (self help). Kelompok self help ini banyak bisa ditemui di kota-kota besar. Boleh mention saya tentang kelompok self help favorit kamu ya, biar kita sama-sama berbagi.

4. Nggak tau mulai darimana
Lalu gimana rasanya pergi ke profesional? Rasanya ya seperti pergi ke dokter atau ke bidan, tapi kali ini yang ditangani adalah perasaan.

Kita akan bicara sebagaimana adanya, tanpa perlu khawatir dihakimi atau dihukum. Beberapa rekan rekan yang pertama kali konsul di Ibunda ternyata baru pertama kali bertemu psikolog. Dan rasanya tentu saja melegakan, sambil tetap membingungkan karena banyak dikasih tugas supaya kita terus membaik. Jadi jangan bayangkan pergi ke profesional seperti pergi ke laundry, kamu datang untuk membawa baju kotor, pulang dengan membawa baju bersih, dan di rumah kamu kotori lagi. Pergi ke profesional adalah latihan bersama untuk mencuci baju, awalnya kamu dibimbing supaya bisa mencuci baju, lalu kamu diajari bagaimana menjaga kebersihan agar baju tidak gampang kotor.

Tolong jangan berbohong ketika pergi ke profesional. Ceritakan saja apa adanya tanpa ditutup tutupi. Mungkin kamu bingung mau mulai cerita dari mana? Tidak usah mulai cerita dari masa kecilmu, itu kejauhan. Mulailah cerita dari keluhanmu saat ini, apa yang kamu pikirkan, rasakan, alami, dan apa yang sedang mengganggu hidupmu. Pada saatnya kamu akan ditanya tentang masa kecilmu, tapi tidak perlu terburu-buru mau menceritakan masa kecil. Tidak perlu terburu-buru juga menyambung-nyambungkan dengan berbagai macam teori. Ceritakan saja apa adanya, kamu akan mengerti rasanya didengarkan sepenuhnya itu sangat melegakan.

Kalau kamu bingung dan takut lupa, catat keluhanmu dalam notes terlebih dahulu. Pada saat di profesional boleh kok membaca buku catatan itu, sampaikan saja karena kamu khawatir lupa.

Kalau kamu mau ada yang ditambahin boleh kok cerita tentang pengalaman pertama kali kamu pergi ke profesional. Yuk saling berbagi

2 komentar

  1. KINI DEWALOTTO MENYEDIAKAN DEPOSIT VIA PULSA TELKOMSEL / XL
    UNTUK KEMUDAHAN TRANSAKSI , ONLINE 24 JAM BOSKU ^-^
    WWW.DEWA-LOTTO.NAME
    WA : +855 88 876 5575

    BalasHapus
  2. Malem dok..
    Klo di surakarta prakteknya dimana ya.?
    TQ

    BalasHapus