Belajar Mengendalikan Marah

Beberapa orang sedemikian marahnya sampai sulit mengendalikan diri. Beberapa memaki, beberapa memakai kata kata kotor, beberapa bahkan menyakiti orang yang disayangi. Agak ironi sebenarnya, kita menyakiti orang yang kita sayangi untuk sesuatu yg sifatnya sementara (marah)

Marah sendiri bukan masalah. Apa yang kita lakukan atau ucapkan saat marah-lah yang bisa menjadi masalah. Belajar untuk merespon dengan tepat saat marah merupakan salah satu ketrampilan penting dalam menjadi relasi dengan homo sapiens lain

Bagaimana mengendalikan amarah?
Pada hakikatnya marah itu perasaan. Dan perasaan itu tidak ada yang bertahan selamanya, dia akan berkurang bersama dengan jarak dan waktu. Lawan kita yang sesungguhnya adalah jarak dan waktu, bukan perasaan itu sendiri

Apa yang perlu dilakukan saat marah?
Ambil jarak, dan ambil waktu. Bernafaslah perlahan untuk mengambil jarak lebih jauh. Jarak ini bukan bicara tentang fisik aja ya, tapi juga pikiran. Percuma kalau mengambil jarak fisik tapi pikiran masih mengulangi kejadian yang menyakitkan
Karena marah itu perasaan, ingat baik baik dia akan berkurang dengan sendirinya

Kamu memang merasa marah, tapi ingat itu hanya perasaan, bukan realita. "Kamu marah dan menganggap pasanganmu selalu salah", Ingat baik baik ini hanya perasaanmu dan bukan realita yang sebenarnya

Saya punya spell pribadi pada saat saya begitu dikuasai perasaan (termasuk marah)
"Perasaan saya hanyalah perasaan. Pikiran saya hanyalah pikiran. Perasaan dan pikiran saya bukanlah realita"
Saya membaca dan menghayati kalimat ini sampai perasaan saya mereda.

Kadang marah itu diperberat oleh kalimat kalimat menghakimi, "dia seharusnya begini", "pasangan saya gak pernah begitu kepada saya", "orang itu selalu bersikap seperti itu". Orang orang lawas di psikologi menyebutnya Tyranny of the should.

Ingat baik baik juga. Tidak ada itu "seharusnya", "selalu", "tidak pernah". Tidak ada seharusnya, siapa yang mengharuskan? Kamu kan? Tidak ada itu selalu, masa iya selalu? Tidak ada juga itu tidak pernah, benarkah sama sekali tidak pernah?

Jika pikiran kita sudah diperbaiki dan perasaan sedikit lebih tenang, langkah selanjutnya adalah kita orientasikan kembali pikiran kita kepada solusi, bukan kepada masalah. Pikirkan baik baik tentang "bagaimana menyelesaikan masalah", bukan "apa dan kenapa"

Ada seorang dosen marah kepada mahasiswa nya yang terlambat satu jam
Dosen berorientasi masalah: "kenapa kamu terlambat?"
Dosen berorientasi solusi:
"bagaimana caranya supaya kamu besok bisa tepat waktu?"

Pertanyaan mengapa hanya akan menghasilkan excuse, bukan solusi. Jika sudah bertemu opsi opsi solusi, maka kamu sudah siap kembali menghadapi masalahmu. Hadapi dengan tenang dan logis.

Kuasai perasaan, jangan mau dikuasai perasaan. Kamu adalah tuan atas perasaanmu, bukan sebaliknya
Salam sadar

Tidak ada komentar