Selamat datang di Trauma Processing Therapy (TPT), sebuah teknik yang dikembangkan oleh dr. Jiemi untuk memproses dan membebaskan emosi dalam memori traumatik. TPT memiliki tujuan utama yaitu menghilangkan gangguan yang ditimbulkan oleh emosi dalam memori traumatik, sehingga individu dapat menghadapi kesehariannya tanpa terkendala oleh reaksi otomatis tubuh yang mengganggu.
Emosi dalam memori traumatik seringkali menjadi kendala utama dalam kehidupan sehari-hari. Gangguan emosi ini dapat dipicu oleh situasi sekitar, menyebabkan reaksi otomatis tubuh yang mengganggu, dan pada akhirnya, mempengaruhi keseimbangan emosi sehari-hari. TPT bertujuan untuk mengatasi masalah ini dengan menyediakan metode efektif untuk memproses dan melepaskan emosi yang terkunci dalam memori traumatik.
Emosi berbeda dengan pikiran, emosi adalah sensasi yang terasa di badan. Banyak orang mengira yang mengganggu mereka sebatas pikiran saja, seandainya pikiran bisa dibuat lebih positif, lebih "tidak banyak berpikir negatif", tidak teringat tentang masa lalu, ikhlas, memaafkan, menerima, move on, melupakan, maka masalah selesai. Realitanya adalah, sekalipun pikiran tidak berbunyi, emosi masih bisa dirasakan di tubuh. Sekalipun seseorang lupa kejadiannya, emosinya masih bisa terasa. Dan mari bandingkan, jika pikiran berbunyi tapi emosi tentang dan tidak terganggu, sangat besar kemungkinan sebenarnya seseorang akan tetap baik-baik saja. Itu mengapa TPT berfokus pada emosi, karena sebagian besar orang terganggu oleh emosi, bukan sekadar karena pikiran.
Penelitian terbaru dari jurnal Nature Neuroscience yang diambil dari Perl et al. (2023), berjudul "Neural patterns differentiate traumatic from sad autobiographical memories in PTSD," menunjukkan bahwa otak secara definitif memperlakukan memori traumatik secara berbeda dibandingkan dengan kenangan sehari-hari. Studi yang melibatkan partisipan dengan PTSD menunjukkan pola aktivitas otak yang sangat berbeda ketika mereka mengingat pengalaman hidup sehari-hari dibandingkan dengan ketika mereka mengingat kenangan traumatis. Ini mengungkapkan bahwa proses pengingatan memori traumatik melibatkan area otak yang berbeda, menjelaskan mengapa pengalaman ini seringkali lebih intrusif dan sulit diprediksi.
Penelitian tersebut menemukan bahwa ketika mengingat pengalaman sehari-hari, hippocampus aktif, seperti yang diharapkan dalam pembentukan memori biasa. Namun, ketika mengingat kenangan traumatis, pola aktivitas otak menjadi tidak konsisten. Hippocampus hampir tidak terlibat, sementara posterior cingulate cortex, area otak yang terkait dengan pemrosesan pemikiran internal, sangat aktif. Temuan ini memberikan bukti konkret bahwa memori traumatik memang berbeda secara kualitatif, mirip dengan pengalaman kembali mengalami kejadian tersebut.
Dalam Trauma Processing Therapy (TPT), pendekatan terhadap pemrosesan memori traumatik melibatkan pendekatan yang berbeda dari psikoterapi yang banyak dikerjakan secara vebal. Dalam Trauma Processing Therapy (TPT), klien tidak dianjurkan untuk membagikan detail rinci tentang pengalaman traumatis mereka. Ini didasarkan pada asumsi bahwa cerita rinci dapat memicu distorsi emosi dalam kisah tersebut, menjauhkan proses dari pengalaman emosional yang sebenarnya. Emosi yang terdistorsi ini, jika terus-menerus divalidasi, dapat menciptakan ketidaknyamanan yang signifikan dan mengganggu keseimbangan emosi.
Sebaliknya, dalam TPT, fokus utamanya adalah pada pemrosesan emosi yang terkunci dalam memori traumatik tersebut. Prosedur ini dirancang untuk membawa emosi tersebut ke permukaan, memprosesnya secara menyeluruh, dan pada akhirnya, menghilangkan dampak negatifnya. Dengan mengarahkan perhatian pada pemahaman dan pemrosesan emosi tersebut, TPT memungkinkan seseorang untuk melihat dan mengamati realitas di sekitarnya dengan lebih jelas.
Dalam sesi TPT, klien dibimbing untuk lebih menyadari sensasi emosi yang muncul dalam tubuh mereka. Pendekatan ini melibatkan penggunaan teknik pernapasan dan diskusi aktif dengan berbagai bagian dari diri sendiri untuk merangkul dan melepaskan emosi yang dipegang. Dengan demikian, individu tidak hanya memahami secara kognitif pengalaman traumatis mereka, tetapi juga memprosesnya secara emosional.
Melalui pengalaman ini, TPT memberikan ruang bagi klien untuk mengeksplorasi, merangkul, dan akhirnya melepaskan beban emosional yang selama ini mereka simpan. Ini memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengintegrasikan kembali pengalaman traumatis ke dalam kehidupan mereka dengan cara yang lebih sehat dan mengarah pada pemulihan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang berfokus pada pemrosesan emosi, TPT membantu klien untuk membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.
Belum banyak literatur tentang Trauma Processing Therapy (TPT) , namun dr. Jiemi bersungguh-sungguh dalam menghadirkan kontribusi TPT ke dalam literatur ilmiah. Keinginannya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dari ruang prakteknya diharapkan dapat membuka pintu bagi pemahaman lebih lanjut tentang efektivitas dan manfaat dari teknik ini. Dengan berkomitmen untuk menyertakan TPT dalam literatur ilmiah, dr. Jiemi berharap untuk memberikan dasar pengetahuan yang kuat dan merangsang minat para peneliti dan praktisi kesehatan mental.
Melalui pengalaman di ruang praktek, terlihat bahwa TPT mampu memberikan bantuan yang relatif cepat dalam pemrosesan emosi yang terkunci dalam memori traumatik. Dalam konteks duka, proses moving on, atau penanganan trauma akibat peristiwa buruk di masa lalu, TPT muncul sebagai alat yang efektif untuk memproses dan meresapi emosi terkait. Kecepatan dalam pemrosesan ini memberikan harapan baru bagi individu untuk menghadapi dan melampaui pengalaman traumatis tanpa harus tenggelam terlarut dalam kekangan peristiwa tersebut.
Sasaran utama dari Trauma Processing Therapy (TPT) adalah untuk membuat emosi dalam memori traumatik tidak lagi dirasakan secara mengganggu. Hal ini mencakup kemampuan untuk menjadikan memori tersebut tidak lagi merintangi kehidupan sehari-hari, baik melalui pemanggilan memori yang disengaja, trigger dari peristiwa atau pikiran, atau bahkan dalam situasi sehari-hari yang mungkin menyerupai pengalaman traumatis tersebut. Dengan begitu, individu dapat meraih keseimbangan emosional dan melihat masa depan dengan lebih positif, tanpa beban emosi yang selama ini menyertai mereka. Keberhasilan TPT dalam merancang jalan cepat menuju pemulihan emosional memberikan harapan baru bagi mereka yang mencari solusi efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi dampak traumatis dalam hidup mereka.
Saat ini TPT dilakukan secara praktik oleh dr. Jiemi di Praktek Pribadinya melalui Siloam Hospitals Bogor. TPT berdurasi kira kira 30 menit-1 jam bergantung dengan jenis dan jumlah trauma yang dikerjakan. Untuk Appoinment bertemu dr. Jiemi saat ini hanya melalui aplikasi Rumah Sakit My Siloam, sesi bisa dijalankan baik online maupun offline. Untuk sesi online akan terbatas jika ada masalah sinyal dan jika intensitas emosinya terlalu kuat maka akan dianjurkan bertemu langsung.
Akan ada workshop berkala bertemakan TPT baik secara offline maupun online. TPT berbentuk workshop akan diadakan berkelompok dan dipandu langsung oleh dr. Jiemi. Sesi workshop TPT biasanya akan dipublikasi dalam media sosial dr. Jiemi, sehingga untuk update jadwal bisa langsung ke Instagram atau Tiktok @jiemiardian.
Ismaya, M., Hasenda, M., Oktaviani, I., & Ardian, J. (2026). Memory Reconsolidation and Its Clinical Application in Psychotherapy: A Narrative Review. Journal Of Indonesian Psychiatric Assosiation, 1(1), 1-13. doi:10.20884/1.jipa.2026.1.1.20153
Octaviani, I., Ardian, J., & Dana Ismaya, M. (2026). Targeting Complex PTSD in Treatment-Resistant Depression: A Case Report on Memory Reconsolidation Based Therapy. Journal Of Indonesian Psychiatric Assosiation, 1(1), 161-174. doi:10.20884/1.jipa.2026.1.1.20193
Ardian, J., & KJ, S. (2022). Merawat Luka Batin. Gramedia Pustaka Utama.
Ardian, J. (2025). WHEN TIME DOESN’T HEAL: A CASE REPORT ON THE USE OF TRAUMA PROCESSING THERAPY FOR PROLONGED GRIEF DISORDER MISDIAGNOSED AS DYSTHYMIA. Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research, 6(1), 19–23. https://doi.org/10.21776/ub.jppbr.2025.006.01.4
Ardian, J. (2025). Pulih dari trauma: berkenalan dengan trauma processing therapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ardian, J., Ismaya, M. D., Octaviani, I. D., & Deazara, K. (2025). Trauma processing therapy: An integrated psychotherapy approach to process traumatic memories. Edelweiss Applied Science and Technology, 9(8), 312-325.